Skip to main content

Apa yang Akan Kau Ungkapkan Ketika Bertemu dengan Rasulullah?

 Apa yang Akan Kau Ungkapkan Ketika Bertemu dengan Rasulullah? 
By. Eva Dianidah 
بسم الله الرحمن الرحيم 


Ada sebuah syair dari salah satu wanita kebanggaan Islam, namanya Shafiyah Binti Musafir. Ketika turut hadir dalam perang Badar, dan meratapi pasukan Quraisy yang terbunuh dalam perang tersebut ia melantunkan sebuah Bait-bait syair berikut. 


"Hai orang yang matanya selalu menangis, 
Aku ini laksana pengembara yang berjalan semalam suntuk 
Sambil minum tetes-tetes air hujan, 
Aku bukan seekor singa yang sudah tak punya kuku dan gigi, 
Tetapi aku adalah seekor singa jantan lapar
Yang masih kuat melompat dan menerkam dengan cakar yang tajam."1  


  Perang Badar yang merupakan salah satu perang terbesar umat Islam ketika masih didampingi oleh baginda Nabi Muhammad SAW. Bersama beliau, umat Islam turut serta  berjuang melawan pasukan Quraisy hingga di penghujung maut pun mereka tetap teguh berdiri dan menopang tubuh dengan niat Lillahi ta'ala. Menerjang dengan semangat membara, menghunus pedang hingga bercucuran darah kemenangan. 
Wahai saudaraku, pernahkah engkau berfikir bagaimana rasanya berjuang menempuh perjalanan panjang bersama sang kekasih Allah, bagaimana rasanya dapat menatap dan berjumpa dengan wajah teduh beliau? Bagaimana sejuknya amanat-amanat beliau ketika diucapkan dihadapan kita,? Pernahkah engkau bertanya, "Akan adakah waktu ku untuk diberi kesempatan berjumpa dengan Manusia kekasih sang Khalik ini? Adakah waktu bahkan semenit saja?" 
Saudaraku, saya pun pernah bertanya-tanya, bahkan lebih banyak  lagi dari pertanyaan-pertanyaan yang telah tertuang diatas, pertanyaan yang tercuat entah datang nya dari mana. Mungkin engkau pun begitu saudaraku, bahkan bisa jadi lebih banyak lagi dari pertanyaan yang saya  miliki. Nah, berdasarkan keingintahuan dan rasa penasaran yang amat dalam, saya adakan survei pembuktian atas apa yang ada di dalam kepala kecil ini.  Survei pembuktian ini saya bagi menjadi 3 kelompok, yaitu Kelompok para Santri, kelompok Mahasiswa, dan kelompok Pecinta Rasul. Orang-orang yang saya ambil  sampel nya adalah dari teman-teman seperjuangan saya sendiri yang kini berada jauh, sangat jauh bahkan. 
Pertanyaan yang saya lontarkan sangatlah mudah, hanya 3 pertanyaan kecil saja. Pertanyaannya yaitu:
1. Apa yang akan kau katakan, jikalau engkau diberi kesempatan untuk dapat duduk berhadapan dengan Nabi Muhammad SAW semeniiit saja? 
2. Apa yang hendak kamu ungkapkan ketika diberi kesempatan bertemu dengan Nabi Muhammad SAW? 
3. Apa yang akan kamu lakukan ketika diberi kesempatan untuk bertemu dengan beliau? 
Tahukah engkau saudaraku, apa yang mereka jawab ketika saya  lontarkan pertanyaan tersebut? Dari jawaban yang mereka berikan, dapat disimpulkan menurut kelompok masing-masing. 

#kelompok pertama dari para Santri, hampir seluruhnya  menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan jawaban yang "Aku akan bershalawat memuji beliau dengan air mata mengucur deras, bahkan akan lama terdiam dan tak dapat berkata-kata. Dan jika dibolehkan, aku pun akan mencium tangan beliau dan memeluk erat tubuh beliau hingga tak ingin aku lepaskan." Dari jawaban ini bisa dipastikan bahwasanya mereka seperti melihat ayahanda yang telah lama hilang dan tiba-tiba muncul di depan mata. Dan saat itulah cintanya seorang anak kepada ayahanda yang begitu dalam, melebihi cintanya kepada sang kekasih muncul. Cinta yang sedalam apa? Sedalam lautan di samudera pasifik, sejauh langit tingkatan ketujuh. 
Dari jawaban manusia-manusia Santri ini ada satu jawaban yang menurut saya begitu menyentuh. Jawaban dari seorang Santri di Ponpes saya, Ponpes Daar El Hikam, namanya Lismaya Yakutati Ismatillah, bisa dibilang beliau ini adalah kaka kelas. Menurut beliau seperti ini: "Klo aku mah simple aja... Ngebayangin untuk bisa bertemu Nabi aja belum bisa karena aku terlalu hina. Bertemu dengan orang yang sangat dikagumi dan jadi panutan pada kenyataannya kita hanya akan diam terpaku dengan kekaguman dan kebahagiaan yang luar biasa. Jadi aku rasa bersholawat adalah ungkapan yg paling indah jika itu terjadi. Dan yang akan ku lakukan adalah bersalaman, Itu pun kalau tangan hinaku bisa meraih sucinya tangan beliau. "

#kelompok kedua  dari para Mahasiswa, ketika diberi pertanyaan ini, jawaban mereka begitu spontan, singkat dan rasional sekali, yaitu  "Aku mencintaimu ya Rasulullah, berilah aku syafa'at mu di akhirat nanti. Dan yang akan aku lakukan adalah mencium tangan beliau. " 
   Sedikit kurang puas memang dengan jawaban mereka, atau mungkin dikarenakan kurang fokusnya mereka dalam menjawab pertanyaan yang sepele ini. Ada satu jawaban yang menurut saya benar-benar sangat spontan dan singkat, padat, jelas. Jawaban ini diberikan oleh teman saya dari jurusan Ilmu Hukum (Syariah)  di UIN Jakarta, beginilah jawabannya: "Berilah syafa'atmu padaku." 
Lalu apa yang akan kamu lakukan ketika diberi kesempatan untuk bertemu dengan beliau?  Pertanyaan yang kedua saya lontarkan padanya, ia lalu menjawab "Sembah ta'dzim dengan bersalaman dan mencium tangan beliau." 
Oh iya, ada satu jawaban lagi yang menurut saya sedikit menggelitik, jawaban dari seorang mahasiswi jurusan Psikologi. Ini jawaban: "Kayaknya kalo semenit palingan bisa nangis aja va. Tp klo mau ngomong, Sari mah pengen ngomong bisa gak Rasulullah hidup di jaman sekarang. Itu aja, 😀" 

#Kelompok ketiga dari para pecinta Rasulullah SAW, jawaban yang diberikan oleh kelompok ini hampir sama dengan kelompok pertama, bahkan tak ada beda. 
Satu diantara jawaban dari kelompok ketiga ini ada satu yang menurut saya adalah jawaban yang menggambarkan perasaan atas pertanyaan nya. Tahukah apa jawabannya? Ini dia jawaban dari sahabat saya, Halimah Tussa'dyah, mahasiswi Lipia. "Masyaallah 😍😍😍 Pertanyaan nya bikin hati dag dig dug..
Yang aku katakan adalah..aku sngat mencintaimu wahai kekasih Allah..dan aku tdak ingin berpisah dari mu...trimakasih atas segala perjuangan mu untuk mensejahterakan umat mu.. 🌷🌷Dan sebenarnya ingin Memeluknya, terus berasalaman dengan beliau, menangis karena ingat perjuangan beliau .."
Pic. by Eva,  in  the Ancol beach

Itulah beberapa jawaban dari para manusia yang saya tanyakan perihal keinginan jikalau bertemu dengan sang kekasih Allah, Rasulullah. Pertanyaan yang sama pun akan saya tanyakan pada engkau, wahai para pembaca, "Bagaimana jikalau engkau diberi kesempatan untuk dapat bertemu dan  duduk berhadapan dengan Rasulullah? Dan apa yang akan kamu lakukan ketika bersama dengan beliau?."   Silahkan dijawab, coba rangkai kata-kata dan kalimatmu. Selamat merenung sobat! 😊

Seorang penyair di zaman Rasul pernah berkata:
Kau nyanyikan untukku sebuah lagu
Padahal, bahkan kepada bayangmu pun aku cemburu. 2

   Syair ini sangat cocok untuk mengisahkan bagaimana rasa cemburu nya Aisyah dengan Hafshah, meski keduanya sangat dekat diantara istri-istri Rasul, tetapi rasa cinta kepada sosok yang sama kadang-kadang membuat keduanya bersaing dalam kecemburuan, bahkan hingga mereka enggan berbagi.. Seperti halnya catatan-catatan sejarah yang mengisahkan kehidupan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, tentang kehidupannya bersama istri-istri beliau dengan keadilan tiada tara. Rasa cinta mereka terhadap beliau begitu tinggi menjulang batas langit. Rasa cemburu yang tinggi pun tak dapat dielakkan, hal ini pun dikarenakan sifat dan sikap Rasulullah yang begitu lemah lembut. Sesuai dengan firman-Nya:


لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْءَاخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.
[QS. Al-Ahzab: Ayat 21]
Berdasarkan ayat diatas, kira-kira siapa coba yang tak mau bertemu dengan  Rasulullah? Semua umatnya pasti, bahkan sangat sangat sangat pasti ingin sekali bertemu dengan beliau, kenapa? Karena CINTA YANG BEGITU DALAM DI HATI KAMI. Bahkan saking dalamnya, tak kan bisa terungkapkan dengan kata-kata yang sangat indah sekalipun. 


    Sekian dari saya, terimakasih telah membaca, khususon untuk teman-teman yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan singkat saya, TERIMAKASIH BANYAK. Lope lope pokoknya buat kalian 💜💜😉 Dan mohon maaf atas segala kesalahan yang tertuang dalam tulisan ini, masih dalam tahap belajar. Kebenaran datangnya hanyalah dari sang Khalik, sedangkan kesalahan datangnya dari diri saya sendiri. So.. Mohon di maafkan yak sobat..! 😆

Sumber:
1. Kitab Umar Ahmad Ar-Rawi, terjemahan "wanita-wanita kebanggaan Islam. 
2. Sulaiman An-Nadawi, Aisyah The True Beauty, (Jakarta: Pena Pundi Aksara, 2007), Cet. 2, hlm. 90. 
3. Al-Qur'anul Karim (Q.S. Al-Ahzab: 21)

Narasumber:
1. Lismaya Yakutati Ismatillah 
2. Halimah Tussa'dyah
3. Anissaturrakhmah 
4. Syifa Muzdalifah 
5. Ahmad Sujud Murtadlo
6. Edi Suratno
7. Sari Sarmilah
8. Nida Hanifah 
9. Nida Ulfah Hasanah 
10. Maulidiya Syifa
11. Yahra Nur Hidayah

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Kongkow Kebudayaan bersama Bens Radio, Membuka Tabir Budaya Indonesia

KONGKOW KEBUDAYAAN "Menghadirkan Kebudayaan di Tengah Pesta Demokrasi"     Menurut Ridwan Saidi, sang budayawan senior atau yang biasa dikenal dengan panggilan akrab Babe Ridwan, menyatakan bahwa "Ulang tahun Jakarta tidak perlu diubah tanggal dan tahunnya, hanya saja narasinya yg perlu diubah, diperbaiki. Museum bahari itulah dari salah satu sisa-sisa abad voc ada." "Kita harus membangun Jakarta dengan melewati pintu peradaban." Pic by Lutfi R.     Adapun menurut Bang Zaki yang berprofesi sebagai dosen UIN Jakarta, menyajikan pemaparannya yakni Pesta Demokrasi itu adalah istilah di Indonesia, dimana biasanya selalu menyajikan pesta disertai para artis. Artis disini pun adalah artis yg pragmatis, memiliki poin penting dan menarik masyarakat untuk datang. Setiap partai pasti akan melakukannya dalam kegiatan kampanye. Padahal seharusnya akan lebih bermakna bila kampanye dilakukan dengan diadakan diskusi permasalahan yang terdapat di suatu d...

Inilah Maharku Untukmu Sebagai Tanda Cinta Kasih Tulusku Padamu

 بسم الله الرحمن الرحيم By. Vadin el-Mhasir   و كلّ حرف مستحق للبنا     والأصل في المبنيّ أن يسکّنا Setiap individu hendaklah memiliki jiwa yang kokoh, berpegang teguh pada kebenaran   dan pada hakekatnya keteguhan seseorang tergantung pada ke istiqomahan hati. [1]         Wahai saudaraku, pemuda/pemudi yang memiliki keistiqomahan hati, bagaimanakah kabarmu? Masihkah engkau kokoh dan berdiri tegak laksana tiang besi yang berdiri   gagah tak pernah goyah dimakan zaman? Masihkah engkau pada pendirian yang awal meski waktu telah menuntunmu kepada kejayaan yang tak selaras? Semoga hatimu tetap tegar dan kokoh mengarungi derasnya aliran kehidupan di dunia ini yang makin tajam. Ada sebuah syair mengenai akhlak, sebagian berikut: ليس الجمال بأثواب تزيننا    إنّ الجمال جمال العلم والأدب ليس اليتيم قد مات والده     إنّ اليتيم يتيم العلم والأدب "Tidaklah disebut indah sese...