Pilihan Dibalik Mentari itu Mengejutkan
By: Vadin el-Mhasir
Udara pagi yang sejuk dengan embun yang masih kentara didedaunan, menenangkan hati yang gelisah. Mentari yang menyembul dari ufuk timur dengan malu-malu menampakkan wajah cerahnya. Ia menampilkan eloknya secercah sinar yang memantul didedauan yang berembun itu. Ada beraneka macam warna yang tercipta, subhanallah indah sekali dipandang mata. Hijaunya dedaunan pohon itu pun menjadi warna abadi yang memantulkan ketenangan jiwa, mampu memanjakan indra penglihatan seraya bertasbih akan keindahan alam semesta ini. Ranting yang masih basah oleh embun pagi disetiap dahan pohon merangkai indah membentuk ratusan jembatan dan trotoar jalan bagi para serangga kecil penghuni pohon, melintasi setiap jengkal jalanan penuh sesak oleh debu pagi dan sinar mentari. Pergi kesana kemari membawa bahan makanan untuk persediaan di rumah saat turun hujan atau kemarau panjang. Ada yang menggendong sendiri, menarik atau bahkan beramai-ramai saling gotong royong memanggul makanan yang ditemukan di sepanjang perjalanan. Ah, menyenangkan sekali dapat menyaksikan adegan penting ini. Adegan para Serangga kecil yang tanpa pamrih menolong saudaranya memanggul beban yang sedang dibawanya, menciptakan gelombang kekeluargaan yang erat nan bersahaja.
Aku saat ini berada tepat dibawah pohon Jambu yang rindang di belakang rumah, duduk termenung membayangkan masa-masa kecilku dulu. Aku yang nakal, keras kepala, dan sering kabur ketika diberi amanah membeli sesuatu oleh nenek. Ya, Aku masih ingat betul saat pulang dari sekolah Tsanawiyah naik diatas pohon jambu ini. Duduk diatas ranting sambil membaca buku cerita. Aku memang suka sekali membaca buku-buku cerita, termasuk novel. Dari cerita yang kubaca, seakan-akan akulah tokoh utamanya. Aku pun tahu bacaan ini tak bagus untuk dikonsumsi oleh otakku, karena nanti akan ada banyak khayalan yang tercipta di dalam diri ini. Tapi, inilah kegiatan yang sangat kutunggu-tunggu saat sepulang dari sekolah. Setiap hari, akan selalu ada buku baru yang ku bawa dari perpustakaan sekolah. Ya, karena saking seringnya mengujungi perpustakaan sekolah, sang penjaga perpustakaan pun sampai hafal dan mengingat wajahku yang selalu nongol di depan meja sang penjaga perpustakaan. Dan entah mengapa sang penjaga perpus menjadi sangat akrab dengan ku, bahkan jika ada buku (Novel maksudnya) yang baru, sudah pasti beliau akan langsung memberitahu ku saat wajah ini muncul di hadapan beliau. Selalu saja raut sumringahnya yang setia, menempel di wajah paruh baya itu ketika melihatku.
Ah, ingat betul ketika dulu Aku selalu duduk di meja perpustakaan paling ujung, duduk menyendiri menikmati setiap barisan kata di dalam Novel yang selalu mampu mengguncangkan hati para pembaca nya, ya termasuk aku. Meja yang terbuat dari kayu papan dengan cat berwarna coklat selalu saja menjadi teman terbaik yang setia menemani ku dalam mengarungi lembaran-lembaran kertas berisi tulisan rapih nan indah. Bukan main indahnya kata demi kata yang tertuang, kata yang mampu merombak hati dan pikiran seseorang yang membacanya. Bahkan seringkali banyak kata-kata yang mampu menggoncangkan niat dan menumbuhkan semangat bagi pembacanya, yang tadinya entah berada dimana, tiba-tiba seakan muncul begitu saja didepan mata.
Di bawah pohon jambu yang rindang ini aku sedang asik menikmati tulisan-tulisan dalam layar handphone yang berada di genggaman. Tulisan yang berlarian kesana kemari berurutan riuh rendah di dalam pikiran. Tiba-tiba ada dering pesan Online masuk tak diundang muncul di layar handphone ku. Dengan malas-malasan melirik pesan itu dan berharap untuk melanjutkan bacaan yang sedang berputar di otak kiri dan kanan ku saja. Namun ada rasa penasaran yang hinggap begitu saja dalam benak, siapakah gerangan yang berani mengganggu pada saat-saat seperti ini?. Akhirnya dengan jemari lentik ini ku buka dan membaca isi pesan yang mendadak muncul itu.
"Assalamualaikum Humaira Bintush Shiddiq. "
Aku bingung melihat kalimat pendek ini. Dengan nama FB yang tak dikenal. Berfikir keras dengan satu nama AHMAD AL-A'ZHAMI. Seperti tidak asing dalam ingatanku, namun masih belum menemukan nama ini dalam lembaran memori.
" Wa'alaikumussalam wr wb. Ya?. "Ting. Bunyi pesan masuk lagi.
"Maaf, ini Humaira alumni MTs. An-Nadawi kelas 9 A angkatan ke-57 bukan?."
Aku semakin dirundung kebingungan, siapakah gerangan insan yang mengirim pesan ini? Tahu Nama, asal sekolah dan kelas ku.
"Ya benar. Maaf ini dengan siapa ya?. "
Off. Sang pengirim pesan off. Aku menggerutu dalam hati, beginikah cara insan yang entah jauhnya berada dimana, membuat hati penasaran dengan seabrek pertanyaan menggunung?.
To be Continue..
Post 12/03/2017

Hayooo. Siapa tuh??
ReplyDeleteSiapa hayooo.. Wkwk
ReplyDeletehayo eva ketahuan hahaha
ReplyDeleteWah ada ibnu, parah nih gk pernah mampir ke blog ane kwkwk
Deleteketahuan apa nu?
ReplyDelete