Skip to main content

Lanjutan "Pilihan Dibalik Mentari itu Mengejutkan"

 Next....
By Vadin el-Mhasir


     Satu minggu berlalu. Suasana pagi ini masih tetap sama seperti pagi-pagi yang telah berlalu. Tapi hari ini sedikit berbeda, hari yang akan mengukir sejarah dalam hidupku. Reuni MTs. Yap, aku tak sabar menanti pertemuan dengan sahabat dan teman-teman lama ku. Teman yang hampir 3 tahun tak berjumpa, tak bersapa dan tak bercengkerama. Aku rindu, serindu rindunya anak itik yang sekian lama tak berjumpa dengan induknya karena tersesat. Ah, jadi teringat ketika suatu kala aku sedang berjalan lambat menyusuri jalan setapak yang lengang. Disana aku mendengar suara itik yang begitu nyaring, hingga rasanya tersayat-sayat hati ini memikirkannya. Ku cari keberadaannya, tengok sana tengok sini disekian banyaknya selokan dan kubangan air disekitar jalan setapak itu. Semakin mendekat dengan keberadaannya, semakin nyaring suara yang tertangkap. Ketemu! Ku lihat seekor itik berwarna kuning kecokelatan dengan sayap kecil yang berwarna kuning keemasan sedang kesusahan mencari jalan keluar. Indah sekali itik ini dipandang mata. Suara nyaring dan sayap yang dikibas-kibaskan mengisyaratkan ia memohon pertolongan kepadaku. Lucu sekali tingkah nya. Mengingatkanku pada serial komik anime yang sering kubaca. Ku angkat itik itu dari jebakan yang menimpanya dengan tangan kanan ku. Sedikit dalam selokannya memang, hingga badanku serasa akan terjungkal. Untung tidak ada airnya, hanya tanah kering dan kerikil yang bersemayam didalamnya. Musim kemarau memang selalu datang hingga mengeringkan seluruh tanah di sepanjang jalan sampai  berdebu. 
     Ku lihat itik yang baru saja ku selamatkan, ia kegirangan keluar dari jebakan yang telah lama menimpanya. Dan entah dari mana, datang seekor induk beserta 8 itik yang menggemaskan di belakang sang induk seperti memanggil anaknya yang hilang satu. Itik yang baru saja lolos itu langsung ngacir dengan girang menghadap induknya. Seketika saudara-saudaranya berceloteh layaknya anak kecil yang menemukan harta karun. Aku terpukau. Terharu biru melihat suasana yang baru saja terjadi. MasyaAllahh.. Memang benar segala ciptaan-Nya itu selalu saja menampilkan berbagai macam pembuktian untuk mengingatkan kita, sebagai umat manusia akan sifat dan akhlak yang seharusnya ada pada diri kita. Binatang yang tak berakal saja bisa, mengapa kita sebagai makhluk paling sempurna kalah dengan mereka? Jleb! Hati ini tertohok dengan pemikiranku yang muncul begitu saja. Bagaimana dengan diriku sendiri? Yang terkadang pun masih sering khilaf. Astagfirullah.. 
     Hari ini, untuk yang pertama kalinya aku akan menghadiri acara reuni. Belum pernah sekalipun aku menghadiri acara-acara reuni. Bagaimanakah rasanya? Apa saja kegiatannya? Akan menarik kah? Akan menyenangkan kah? Laku bagaimana dengan mereka? Masihkah mereka mengenal ku? Ataukah bahkan tak mengingat ku sama sekali. Menyedihkan sekali jika itu terjadi. Rasanya seperti ditusuk berbagai pisau, Oh bukan, tapi golok. Jleb! Jleb! Jleb!! 
    Tepat pukul 8.00 aku mendapat pesan singkat dari teman lama ku, ia menanyakan sudah siapkah? Ia pun mengajakku untuk bertemu dan berangkat bersama. Tak kusangka, teman yang selama ini ku kira telah menghilangkan memorynya terhadapku itu, hari ini mengajakku dengan senang hati. Ah manusia, siapa yang menyangka. Terkadang aku berfikir, manusia itu membingungkan, penuh teka-teki dan sulit dimengerti. Nah loh, aku juga kan manusia. Oh, aku ternyata baru menyadari bahwa aku pun manusia, sama seperti mereka. Ckckk 
      Sebelum berangkat, ku sempatkan untuk mematutkan diri di hadapan cermin didalam kamar kecil ku yang begitu dingin, padahal lampu yang menyala begitu mempesona, terang benderang dan kukira panas akan menghangatkan kamar imut ini. Tapi tetap saja, sedari kecil ku berkunjung dikamar imut ini pasti saja suasananya dingin, atau mungkin karena penghuninya juga dingin? Haha. Cermin di kamar ini memperlihatkan sosok perempuan dengan gamis panjang berwarna abu-abu yang dihiasi corak bunga-bunga kecil, dengan kantung disebelah kanan dan kiri, kepala yang diselimuti jilbab putih bercampur abu-abu, dihias dengan sebuah bros kecil sebagai ikatan dengan baju agar tidak terlepas dan tetap rapi. Wajah yang dipoles dengan sedikit pelembab dan lipice, tak ketinggalan juga mengukir garis panjang di bawah mata dengan celak Arab pemberian Ummi saat acara perpisahanku bulan lalu. Kulihat cermin dihadapan ku itu, terlihat disana pantulan perempuan dengan wajah  natural, dan sedikit hiasan senyum mungkin akan semakin menampakkan keanggunannya. Lalu, aku tersenyum, menyentuh kan jemari telunjuk ku di pipi, dan bertanya, aslikah ini? Atau hanya pantulan cahaya dari bohlam lampu dikamar saja? Seakan tak percaya, ku ulangi sekali lagi dan dengan dua jemari ku tempelkan pada pipi kanan dan kiri ku, aku memutar-mutarkan badan dihadapan cermin itu. Seakan-akan aku sedang melihat gambaran anime berada dihadapanku. Ah, ternyata asli dan bukan di dalam cerita dongeng. Rasanya ingin melompat, tak pernah sekalipun ku lihat di dalam cermin kamarku sendiri ada pantulan anime berjilbab dengan anggunnya. 

  Ting... Pesan masuk.
     "Gimana? Udah siap belum? Aku tunggu di depan pertigaan ya.. "
  Ternyata pesan dari teman lama ku, Rahma.
     "iya, ini sudah selesai. Aku Otw yaa.. "
  Sedetik kemudian pesan balasan masuk.
     "Bergegas, aku tak mau sampe jadi jamur. Hmmp"
     Haha. Aku tertawa melihat balasan temanku ini, masih saja senang bergurau. Aku rindu padanya. Tak sabar untuk melihat wajah cemberut nya seperti dulu. Pasti sangat manis, hingga madu pun akan tersingkirkan.  Aku pun tersenyum dan bergegas berangkat. 
     "Ummi, Abi.. Aku berangkat ya.. "
     Ku cium telapak tangan kedua orang tua ku dengan rasa hormat yang amat tinggi. Inilah telapak tangan yang sedari dulu menggendong dan memapahku ketika aku sakit, ketika aku lemah dan tak berdaya. Inilah telapak tangan yang senantiasa membantuku ketika aku terjatuh dan tak mampu berdiri, bahkan berlari.
  "Hati-hati anakku, kamu sudah tumbuh semakin dewasa sekarang. Jaga akhlak mu,  jangan kamu biarkan lisan mu menyakiti hati siapapun. "
     "Iya Abi, insyaAllah akan ku lakukan. Siap melaksanakan perintah komandan. "
     Aku berkata sambil mengangkat tangan kanan ku dan memberi hormat pada komandan terbaik di keluarga kecilku ini.
     "Berangkat sama siapa kamu?."
     Ummi bertanya sambil mengedipkan sebelah matanya.
     "Aih Ummi, genit deh. Aku berangkat sama Rahma, dia udah nunggu dari tadi di pertigaan. Ummi jangan mikir macem-macem deh,.. "
Sambil memicingkan mata kearah Ummi, dan sedikit memonyongkan bibir.
   "Haha.. Iya iya.. Ummi faham ko. Sudah sana pergi. Sampaikan salam Ummi dan Abi untuk teman-teman mu disana ya. Ajak mereka main kesini kalau perlu." 
     "Waah boleh tuh Ummi, ngadain reunian tahun depan di rumah. Sudah ya Ummi Abi, aku berangkat dulu. Assalamualaikum.. "
     "Wa'alaikumussalam wr wb.. "
   Sedikit berlari-larian kecil aku menyusuri jalan setapak menuju pertigaan tempat pertemuan ku dengan Rahma. Aku tak mau melihatnya dengan wajah merah padam yang pastinya harus aku siram dengan air ide cream. Sama seperti dulu selalu menagih ice cream besar rasa coklat ketika ia kesal padaku. 
Satu menit, dua menit, tiga menit, lima menit... Ku lihat Rahma dari kejauhan  bersama orang lain. Entah siapa yang bersamanya, aku kurang mengenalinya. 
"Hey cantik, lama sekali kau. Aku telah lama menanti kau hingga jamur payung tak lagi mau bersanding dengan ku. Hanya daun janur kuning yang mampu bertahan bersamaku menanti kau yang tak kunjung datang. Huh.. "
Tuh kan, baru saja datang. Langsung kalimat syair panjangnya terlontar. Ooh.. Aku merindukannya.
     "Rahmaaa.. Miss you Miss you Miss yuuuuuuu.. "
Aku lari dan tepat dihadapannya ku peluk tubuh gembulnya, kucubit-cubit pipi cabi dan bulatnya seperti bakpau isi coklat kesukaanku. Ah, rasanya ingin sekali aku makan saja ini pipi bulatnya ini. 
     "Eit.. Eit.. eiiiittt... Cukup cukup cukup.. Nanti makeup ku luntur karna kau colek-colek aku seperti itu. Kecantikan ku bisa hilang nanti dihadapan teman lama yang tak pernah terlihat sejak tahun 90an. "
     "Ah kamu Rahma, masih saja kau belum berubah. Janganlah berlebihan, kita hanya tidak bertemu selama tiga tahun saja, tidak lebih dan bukan dari tahun 90an. -_- " 
     "Oh ya? Kukira sudah ratusan tahun aku tak bertemu dengan kau nak. Hahaa tak berubah. Jilbab ala ala mu masih saja seperti dulu. Oh tunggu, kau pakai makeup.!  Waah, menakjubkan! Sejak kapan kau pakai ini hah?."
     "Eiiits Rahma, ini cuma pakai pelembab. You know pelembab? Biar wajahku ada perubahan dikit. Kaya kamu itu loh, mempesona. Hehe"
     "Haha.. Tetap saja kau masih natural nak. Tapi tak apa. Perubahan itu akan membawamu selangkah demi selangkah."
     "Aiiissh.. I love you so much Rahma. Aku tersipu jadinya nih. "
Ku kedipkan mata penuh arti pada Rahma.
     "Aiih, sudah sudah. Tetap saja ice cream coklat ukuran big harus kau suguhkan padaku selesai acara nanti. Ayo cepat kita segera kerumah Aisyah, pasti sudah banyak yang datang. Oh iya, ini Fatma dan Yuni, angkatan kita kelas IX C. Masih ingatkah engkau?. "
     "Hey Fatma, Hey Yuni. Gimana kabar? Lama tak berjumpa. Aku sih Alhamdulillah baik.." (sambil tersenyum manis semanis manisnya, agar tak terlihat bahwa aku pin lupa pada mereka sebenarnya. Huuft) 
     "Kacang.. Kacang.. Kacang.. Kacang mahal harganya.. "
Rahma bersenandung seperti jualan kacang. Hahaa
Lalu, kita beriringan berjalan menuju tempat base camp acara reuni berlangsung, di rumah Aisyah. Gerbang rumahnya sudah semakin dekat, dan ku lihat sudah ada beberapa motor di depan rumahnya. Belum ramai, mungkin karena jam karet seperti biasa.
     "Assalamualaikum wr wb.. Aisyah.. "
Seperti biasa Rahma yang paling aktif dan menyapa terlebih dahulu.
     "Wa'alaikumussalam wr wb.. Hay Rahma, Fatma, Yuni. Daann.. Pasti  Humairah.."
Aku tersenyum dipanggil nama yang terakhir. Ah, ternyata kurang populer juga diriku ini. Hmmmp
    Aisyah, Rahma dan aku mulai bercengkerama dan menanyakan kabar dan aktivitas selama kurang lebih tiga tahun ini. Menyenangkan sekali bisa bertukar cerita dengan teman-teman lama. Ada perasaan bahagia Yang menyusup begitu saja. Ku perhatikan disetiap sudut halaman rumah ini, tak jauh berbeda dengan yang dulu pernah ku kunjungi. Di belakang ku ada beberapa anak-anak putra, satu dua yang ku kenal, sisanya hanya wajah yang ku fahami. Sambil menunggu yang lain datang, aku duduk bersandar pada dinding yang berada tepat di belakang ku. Dan sepertinya di belakang dinding ini ada salah satu teman sekelas ku dulu yang juga sedang bersandar sambil ngobrol dengan yang lainnya. Jarak dinding ini cukup jauh, hingga aku rasa cukuplah sebagai penghalang bagi anak laki-laki dan perempuan yang duduk bersandar pada dinding yang sama. 
Seakan teringat sesuatu, aku mulai membuka hp dan facebook. Ah iya, ada pesan yang belum terbalas. Lama aku tak membuka jejaring sosial yang satu ini, dan benar ada satu pesan yang masuk. Ku buka, 
    "Humaira, ini aku Ahmad Al-A'zhami  teman sekelas mu waktu MTs dulu. Aku minta nomor kamu sini, buat ngabarin informasi reuni angkatan kita. "
Oh, benar. Dia teman sekelas ku, pantas saja tahu tentang ku. Entah bagaimana, tiba-tiba jemari ku mengetik sebuah nomor hp di pesan balasan dan mengirimnya. Oh Allah, aku kaget. Baru tersadar bukankah hari ini acara reuni yang dimaksud dalam pesan tersebut? Untuk apa aku kirim nomor? 
     Ting... Pesan SMS masuk.
     "Assalamualaikum wr wb.. Ya? Ada apa ya?. "
Hah? Siapa ini? Kenapa bertanya ada apa? Memangnya aku mengirimnya pesan? Nomor tak dikenal, siapa gerangan? Aneh sekali. 
Lalu ku jawab dengan singkat.
    " Wa'alaikumussalam wr wb.. Lah ko nanya? Ini siapa?. "
     "Ini A'zhami, tadi kan kamu ngirim nomor ke fb aku. Ada apa ya?."
Aiiissh.. Ternyata. Bukankah dia yang meminta? Oh... Aku kan yang salah mengirimnya? Kenapa tak berfikir dulu sebelum dikirim Humairaaa.. Huuuft
     "Loh, bukannya kamu yang minta nomor ku dikirim buat ngabarin informasi reuni?. "
Ceklis. Diterima.
     "Ayo yang laki-laki, tolong bantu angkatin bangku yang ada di dalam. Biar ruangannya lebih luas buat ngumpul. Bakal banyak nih yang dateng.." 
Suara ketua pelaksana acara reuni ini berkumandang, meminta bantuan kepada yang merasa laki-laki. Kulihat lima orang berdiri dari tempat duduk nyaman nya dan mulai membantu merapikan segala perabot rumah Aisyah untuk dipindahkan keluar agar lebih luas ruangan di dalam. 
     Kulihat hp ku tak berdering lagi, tak ada pesan masuk. Satu menit, dua menit, lima menit, sepuluh menit. Masih belum ada balasan. Ah sudahlah, yang penting sudah tahu maksud pesannya. Setelah banyak yang datang, aku mulai mencari sosok insan yang bernama Ahmad Al-A'zhami  yang telah melimpahkan rasa penasaran yang amat dalam. Teman sekelas? Yang mana? Hingga menyerah, ku tanyakan saja pada Rahma. 
     "Rahma, yang namanya Ahmad Al-A'zhami  Yang mana sih orangnya?  Temen sekelas kita kan?. "
     "ooh si Zhami, Itu yang tadi bantuin bawa bangku sofa. Yang pake baju koko warna putih. Kenapa emang? Hayo ngakuuu?." (Rahma meledek sambil menaik naikkan alis tebalnya) 
      "Apaan sih bu? Aku cuma nanya, itu minggu kemarin ada yang ngasih kabar reuni. Ya itu orangnya. Cuma penasaran aja siapa, ko aku ga kenal ya. Haha" 
     "Kamu emang kenal sama siapa di kelas? Orang kerjaannya ke perpus mulu, ketemu penjaga pintu perpus dan petugas perpus. Lagi-lagi yang dipegang buku perpus, kenal siapa kamu? Apalagi cowo. Pantes lah ga kenal."
     "heeeyyy.. Jangan dibahas. Itu kan dulu. Hohoho. ".
    Suasana semakin meriah, apalagi ketika tiba waktu perkenalan. Seakan-akan baru jadi anak baru di sekolahan. Dan pantas saja jika banyak yang datang, karena waktu mengadakan acara ini tepat sekali, H+ 2 lebaran. Pasti banyak yang masih di rumah dan belum mulai pergi menyongsong tujuan baru. Masih sibuk dengan sanak saudara dan keluarga tercinta. Banyak yang aku lupa nama-nama dari teman-teman lama ku  ini, dan sekali lagi aku mencari sosok insan yang tadi disebutkan oleh Rahma. Ah, masih saja belum menemukannya. Misterius sekali rasanya mencari satu orang saja. Huuump

To be Continue.. 

Maaf baru posting kelanjutannya. Selamat membaca!  Kritik dan saran nya ditunggu loh.. Untuk perbaikan postingan selanjutnya.. ๐Ÿ˜€ Syukron ๐Ÿ˜Š

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Apa yang Akan Kau Ungkapkan Ketika Bertemu dengan Rasulullah?

  Apa yang Akan Kau Ungkapkan Ketika Bertemu dengan Rasulullah?  By. Eva Dianidah  ุจุณู… ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฑุญู…ู† ุงู„ุฑุญูŠู…  Ada sebuah syair dari salah satu wanita kebanggaan Islam, namanya Shafiyah Binti Musafir. Ketika turut hadir dalam perang Badar, dan meratapi pasukan Quraisy yang terbunuh dalam perang tersebut ia melantunkan sebuah Bait-bait syair berikut.  "Hai orang yang matanya selalu menangis,  Aku ini laksana pengembara yang berjalan semalam suntuk  Sambil minum tetes-tetes air hujan,  Aku bukan seekor singa yang sudah tak punya kuku dan gigi,  Tetapi aku adalah seekor singa jantan lapar Yang masih kuat melompat dan menerkam dengan cakar yang tajam."1     Perang Badar yang merupakan salah satu perang terbesar umat Islam ketika masih didampingi oleh baginda Nabi Muhammad SAW. Bersama beliau, umat Islam turut serta  berjuang melawan pasukan Quraisy hingga di penghujung maut pun mereka tetap teguh berdir...

Kongkow Kebudayaan bersama Bens Radio, Membuka Tabir Budaya Indonesia

KONGKOW KEBUDAYAAN "Menghadirkan Kebudayaan di Tengah Pesta Demokrasi"     Menurut Ridwan Saidi, sang budayawan senior atau yang biasa dikenal dengan panggilan akrab Babe Ridwan, menyatakan bahwa "Ulang tahun Jakarta tidak perlu diubah tanggal dan tahunnya, hanya saja narasinya yg perlu diubah, diperbaiki. Museum bahari itulah dari salah satu sisa-sisa abad voc ada." "Kita harus membangun Jakarta dengan melewati pintu peradaban." Pic by Lutfi R.     Adapun menurut Bang Zaki yang berprofesi sebagai dosen UIN Jakarta, menyajikan pemaparannya yakni Pesta Demokrasi itu adalah istilah di Indonesia, dimana biasanya selalu menyajikan pesta disertai para artis. Artis disini pun adalah artis yg pragmatis, memiliki poin penting dan menarik masyarakat untuk datang. Setiap partai pasti akan melakukannya dalam kegiatan kampanye. Padahal seharusnya akan lebih bermakna bila kampanye dilakukan dengan diadakan diskusi permasalahan yang terdapat di suatu d...

Inilah Maharku Untukmu Sebagai Tanda Cinta Kasih Tulusku Padamu

 ุจุณู… ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฑุญู…ู† ุงู„ุฑุญูŠู… By. Vadin el-Mhasir   ูˆ ูƒู„ّ ุญุฑู ู…ุณุชุญู‚ ู„ู„ุจู†ุง     ูˆุงู„ุฃุตู„ ููŠ ุงู„ู…ุจู†ูŠّ ุฃู† ูŠุณฺฉّู†ุง Setiap individu hendaklah memiliki jiwa yang kokoh, berpegang teguh pada kebenaran   dan pada hakekatnya keteguhan seseorang tergantung pada ke istiqomahan hati. [1]         Wahai saudaraku, pemuda/pemudi yang memiliki keistiqomahan hati, bagaimanakah kabarmu? Masihkah engkau kokoh dan berdiri tegak laksana tiang besi yang berdiri   gagah tak pernah goyah dimakan zaman? Masihkah engkau pada pendirian yang awal meski waktu telah menuntunmu kepada kejayaan yang tak selaras? Semoga hatimu tetap tegar dan kokoh mengarungi derasnya aliran kehidupan di dunia ini yang makin tajam. Ada sebuah syair mengenai akhlak, sebagian berikut: ู„ูŠุณ ุงู„ุฌู…ุงู„ ุจุฃุซูˆุงุจ ุชุฒูŠู†ู†ุง    ุฅู†ّ ุงู„ุฌู…ุงู„ ุฌู…ุงู„ ุงู„ุนู„ู… ูˆุงู„ุฃุฏุจ ู„ูŠุณ ุงู„ูŠุชูŠู… ู‚ุฏ ู…ุงุช ูˆุงู„ุฏู‡     ุฅู†ّ ุงู„ูŠุชูŠู… ูŠุชูŠู… ุงู„ุนู„ู… ูˆุงู„ุฃุฏุจ "Tidaklah disebut indah sese...