Skip to main content

Inilah Maharku Untukmu Sebagai Tanda Cinta Kasih Tulusku Padamu



 بسم الله الرحمن الرحيم

By. Vadin el-Mhasir
 
و كلّ حرف مستحق للبنا    والأصل في المبنيّ أن يسکّنا
Setiap individu hendaklah memiliki jiwa yang kokoh, berpegang teguh pada kebenaran  dan pada hakekatnya keteguhan seseorang tergantung pada ke istiqomahan hati.[1]


       Wahai saudaraku, pemuda/pemudi yang memiliki keistiqomahan hati, bagaimanakah kabarmu? Masihkah engkau kokoh dan berdiri tegak laksana tiang besi yang berdiri  gagah tak pernah goyah dimakan zaman? Masihkah engkau pada pendirian yang awal meski waktu telah menuntunmu kepada kejayaan yang tak selaras? Semoga hatimu tetap tegar dan kokoh mengarungi derasnya aliran kehidupan di dunia ini yang makin tajam.
Ada sebuah syair mengenai akhlak, sebagian berikut:
ليس الجمال بأثواب تزيننا   إنّ الجمال جمال العلم والأدب
ليس اليتيم قد مات والده    إنّ اليتيم يتيم العلم والأدب
"Tidaklah disebut indah seseorang itu karena pakaian yang menghiasnya, akan tetapi keindahan itu adalah indah ilmu dan budi pekerti nya.
Bukan pula disebut anak yatim, anak yang ditinggal mati oleh orang tuanya. Tetapi sesungguhnya anak yatim ialah yatim ilmu dan budi pekerti."[2]
Syair dari Alfiyah Ibnu Malik ini bolehlah menjadi acuan (pedoman) bagi kita dalam memilih dan menilai seseorang, yang akan dijadikan sebagai teman, sahabat, bahkan pasangan hidup. 😍
  
 pic. by Lisma Al-Khudrie

    Wahai saudara/i ku yang sholeh/sholehah nan gagah/cantik jelita, untuk kali ini saya ingin berbagi pengetahuan mengenai "MAHAR". Nah loh, Baper deeehh..  -_- 😁  Yap, seperti yang sudah diketahui oleh kita semua bahwa mahar adalah salah satu bagian dari pernikahan, selalu tak ketinggalan karena mahar merupakan sesuatu yang sangat berarti bagi sang calon Istri (idaman) 😀 semua perempuan itu calon-calon Istri idaman looh (soalnya kalo laki-laki bukan calon  istri, tapi calon suami idaman 😍).
            Sesuai dalam firman Allah swt :
وَءَاتُوا النِّسَآءَ صَدُقٰتِهِنَّ نِحْلَةً  ۚ  فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَىْءٍ مِّنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيٓئًا مَّرِيٓئًا
"Dan berikanlah maskawin (mahar) kepada perempuan (yang kamu nikahi) sebagai pemberian yang penuh kerelaan. Kemudian, jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari (maskawin) itu dengan senang hati, maka terimalah dan nikmatilah pemberian itu dengan senang hati." [QS. An-Nisa': Ayat 4]
  Pemberian "mahar"  ini wajib bagi laki-laki yang akan menikahi seorang perempuan, tetapi tidak menjadi rukun nikah, dan meskipun tidak disebut pada waktu akad, pernikahan nya tetap sah.
     Nah, untuk ukuran (banyaknya) maskawin (mahar) itu tidak dibatasi oleh syari'at Islam, hanya menurut kekuatan calon suami beserta keredhaan sang calon istri. Walaupun demikian, hendaknya calon suami itu benar-benar sanggup untuk membayar mahar tersebut kepada sang calon istri. Karena mahar itu apabila telah ditetapkan, sebanyak ketetapan itu, maka menjadi utang atas suami, wajib dibayar sebagaimana utang kepada orang lain. Jikalau tidak dibayar, maka akan menjadi soal dan pertanggungjawaban di Hari Kemudian. Namun, jangan sampai terperdaya dengan adat bermegah-megahan dengan banyak mahar, sehingga si laki-laki menerima perjanjian itu karena utang, sedangkan dia tidak ingat akibat yang akan menimpa dirinya sendiri. Pun terhadap perempuan (istri), dia wajib membayar zakat maharnya itu sebagaimana dia wajib membayar zakat uangnya yang dipiutangnya.[3]
Dan sabda Nabi Muhammad saw :
عن عائشة أنّ رسول الله صلّى الله عليه وسلّم قال إنّ أعظم النّكاح بركة أيسره مؤمنة. رواه احمد
Dari 'Aisyah, bahwasanya Rasulullah saw telah berkata, : "Sesungguhnya yang sebesar-besarnya berkat nikah, ialah yang sederhana belanja nya." (HR. Ahmad)
    Nah, berdasarkan penjelasan diatas, dapat kita tarik kesimpulan bahwasanya dalam memberikan mahar itu janganlah terlalu berlebihan, bermegah-megahan menurut kepada adat, karena setiap pemberian mahar itu memiliki tanggung jawabnya, sebaiknya berikanlah semampu si laki-laki dan dengan keredhaannya si perempuan.
   Namun kesederhanaan pemberian mahar itu bukan berarti memberikan yang sangat sedikit pula, jangan juga meremehkan pemberian mahar untuk sang calon istri. Karena mahar itu bagaikan pemberian dari laki-laki (si calon suami) kepada perempuan (si calon istri) sebagai penghormatannya dan hadiah penghargaannya kepada si calon istri yang akan bersanding dengannya, menjadi pasangan seutuhnya selama hayat hidupnya, menemani dan menjalani hidup dengan perjuangan bersama. Dengan pemberian yang tulus, ikhlas dari lubuk hati yang terdalam dan tanpa paksaan, pemberian yang khusus diberikan kepada sang calon pendampingnya, yang dianggap sebagai karunia dari Allah SWT untuk dirinya, dan InsyaAllah berkah.
    Masih ingat kah engkau, saudaraku, jumlah mahar yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW kepada Siti Khadijah? Dalam kitab terjemahan Habawiyah disebutkan bahwa Saat menikah dengan Khadijah radhiyallahu’anha, mahar (maskawin) yang diberikan oleh Rasulullah SAW adalah 20 ekor unta muda.[4] Tahukah nilai 20 ekor unta itu berapa? Yaitu setara 400-an juta. Sedangkan saat menikahi Hindun (Ummu Habibah radhiyallahu’anha) diriwayatkan bahwa Rasulullah memberikan mahar 4000 dirham (setara 800 juta rupiah).[5]
     Adapun mahar Rasulullah kepada Siti Aisyah, berdasarkan dua pernyataan Ibnu Sa'ad, mahar yang diberikan oleh Rasulullah saw. kepada Aisyah adalah sebuah rumah seharga 50 dirham. Dalam riwayat Ibnu Ishaq, mahar yang diberikan oleh Rasulullah saw. adalah 400 dirham.
    Dan ada pula riwayat lain yang berasal dari Ibnu Sa'ad sendiri bahwa Aisyah berkata, "Mahar yang diberikan oleh Rasulullah saw. adalah 12 uqiyyah dan 1 nasy atau setara dengan 500 dirham. 1 uqiyyah setara dengan 40 dirham, sementara 1 nasy setara dengan 20 dirham."[6]
     Jika nilai mahar yang diterima Aisyah itu dibandingkan dengan nilai mahar yang biasa diberikan secara berlebihan dewasa ini, maka akan segera tampak perbedaan besar antar keduanya. Banyak orang menganggap bahwa pemberian mahar dalam jumlah yang sedikit merupakan penghinaan kepada keluarga istri, dan mengakibatkan turunnya prestise sosial mereka. Namun terhadap anggapan itu, kita patut  bertanya, adakah di masa kita ini sebuah Keluarga yang lebih mulia, lebih terhormat dan lebih tinggi derajatnya daripada keluarga Abu Bakar ash-Shiddiq?
     Nah, dapat pula kita simpulkan bahwa sebaik-baiknya laki-laki dalam pemberian mahar yang ideal adalah yang memberikan mahar sebesar mahar Rasulullah, bagi yang mampu dan tidak kesulitan dengan jumlah itu. Karena Rasulullah adalah suri tauladan terbaik. Sedangkan bagi yang tidak mampu maka maharnya sesuai kemampuan (yaitu lebih kecil dari mahar yang biasa diberikan Rasulullah). Dan sebaik-baiknya perempuan adalah yang menerima apa adanya dan tidak memberatkan dengan penentuan mahar yang tidak sesuai dengan kemampuan laki-laki (calon suami).

Ada sedikit catatan mengenai besar jumlah dinar, dirham dan rupiah, yaitu sebagai berikut:
Pada zaman nabi nilai 1 dinar = 10 dirham.
Zaman sekarang nilai 1 dinar = 100 dirham
Pada zaman nabi , kurang lebih:
nilai 1 dinar (4,25 gram emas) = 2 juta rupiah
nilai 1 dirham (3 gram perak) = 200 ribu rupiah

Tahun 2014:
1 dinar = 2 juta rupiah
1 dirham= 20 ribu rupiah
Namun seiring berjalannya waktu, nilai dirham/perak semakin turun (terkena inflasi), sedangkan emas/dinar tetap stabil. Perak di zaman ini nilainya hanya sepersepuluh dibanding zaman nabi.
    Pada zaman nabi dengan uang 5-10 dirham sudah bisa membeli kambing. Pada zaman sekarang butuh 50-100 dirham untuk membeli seekor kambing. Sedangkan nilai dinar/emas tidak berubah (tidak terkena inflasi). Pada zaman nabi uang 1 dinar bisa untuk membeli 1-2 ekor kambing, begitu juga zaman sekarang.[7]

   Nah saudara/i ku seiman, sedaerah, sekabupaten, seprovinsi, sebahasa, seadat, sebangsa setanah air tumpah darahku, sebenua timur dan semakhluk seluruh negeri di dunia fana ini. Inilah sedikit pengetahuan yang bisa saya tumpahkan dan bagikan kepada saudara-saudari sekalian. Jikalau ada yang benar sesungguhnya adalah dari Allah SWT, dan yang salah datangnya dari saya sendiri. Oleh karenanya mohon koreksian dan kritikan yang membangun untuk dapat memperbaiki hingga mencapai taraf sempurna menurut yang ahlinya.
      Tulisan ini pun sesungguhnya saya persembahkan atas janji saya terkhusus untuk kakak tercinta dan terkasih yang tinngal menghitung jari untuk melangsungkan acara pernikahannya (sedih saya bakal sendirian nantinya, hiks). Kakak tercinta, Erla Wijayanti & calon kakak ipar Adnan Khaerulloh. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk keduanya, dan semoga tidak tersesat sebelum pelaksanaan. Alangkah lebih baiknya baca juga berbagai referensi yang lain untuk menambah wawasan agar lebih faham dan mengerti.
Dan juga saya ucapkakn banyak terimakasih kepada rekan-rekan yang mau membantu dalam penyelesaian tulisan ini (alay ya? Tak apalah). Kepada Teh Lismaya yang sudah menyumbangkan karya anime nya, dan Kakak Ofa yang telah memberikan buku terbaiknya dan Al-Faqih atas foto kitab Sirah Habawiyahnya. Sungguh sangat membantu (oh, aku tersentuh!!. Hiks.. halaaay -_-)
   oh iya, biar makin baper, dengerin lagu ini juga yaa..

Maharku Untukmu


Album : Single ANN Jateng
Munsyid : ANN Jateng Alief
http://liriknasyid.com


Inilah maharku untukmu
Seperti ini kumampu
Sepenuh hati kuberikan
Sebagai wujud cintaku

Reff
Maharku untukmu tulus kuserahkan
Kepada dirimu satu yang kupilih
Maharku untukmu agung karunia
Yang Allah berikan padaku untukmu

Terimalah sebaris doa
Semoga engkau bahagia
Dan kunyanyikan lagu ini
Persembahan cinta suci
bisa juga liat videonya di https://www.youtube.com/watch?v=_Kc1x4WrOLA

Terimakasih dan semoga bermanfaat bagi para pembaca...^_^ 😍


[1] Litho'atillah, Penggetar Hati, (Kediri: Al-Aziziyah Press dan Lirboyo Press, 2010), Cet. 1, hlm. 1.
[2]Ibid.,  Litho'atillah, hlm. 68.
[3] Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam, (Jakarta: Attahiriyah, 1954),  Cet. 17, hlm. 373.
[4] Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah trj. Ar-Rahiq Al-Makhtum Bahtsun Fis Siratin Nabawiyyati ‘ala Shahibiha Afdhalush Shalati Was Sallam, (Jakarta: Ummul Qura, 2016), Cet. 12, hlm. 122.
[5]https://www.google.com/amp/s/ainuamri.wordpress.com/2014/08/05/mahar-pernikahan-rasulullah-senilai-100-an-juta-rupiah/amp/
[6] Sulaiman An-Nadawi, Aisyah The True Beauty trj. Sirah as-Sayyidah Aisyah Ummil Mu'minin r.a., (Jakarta: Pena Pundi Aksara, 2007), Cet. 2, hlm. 15.
[7] https://www.google.com/amp/s/ainuamri.wordpress.com/2014/08/05/mahar-pernikahan-rasulullah-senilai-100-an-juta-rupiah/amp/

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Apa yang Akan Kau Ungkapkan Ketika Bertemu dengan Rasulullah?

  Apa yang Akan Kau Ungkapkan Ketika Bertemu dengan Rasulullah?  By. Eva Dianidah  بسم الله الرحمن الرحيم  Ada sebuah syair dari salah satu wanita kebanggaan Islam, namanya Shafiyah Binti Musafir. Ketika turut hadir dalam perang Badar, dan meratapi pasukan Quraisy yang terbunuh dalam perang tersebut ia melantunkan sebuah Bait-bait syair berikut.  "Hai orang yang matanya selalu menangis,  Aku ini laksana pengembara yang berjalan semalam suntuk  Sambil minum tetes-tetes air hujan,  Aku bukan seekor singa yang sudah tak punya kuku dan gigi,  Tetapi aku adalah seekor singa jantan lapar Yang masih kuat melompat dan menerkam dengan cakar yang tajam."1     Perang Badar yang merupakan salah satu perang terbesar umat Islam ketika masih didampingi oleh baginda Nabi Muhammad SAW. Bersama beliau, umat Islam turut serta  berjuang melawan pasukan Quraisy hingga di penghujung maut pun mereka tetap teguh berdir...

Kongkow Kebudayaan bersama Bens Radio, Membuka Tabir Budaya Indonesia

KONGKOW KEBUDAYAAN "Menghadirkan Kebudayaan di Tengah Pesta Demokrasi"     Menurut Ridwan Saidi, sang budayawan senior atau yang biasa dikenal dengan panggilan akrab Babe Ridwan, menyatakan bahwa "Ulang tahun Jakarta tidak perlu diubah tanggal dan tahunnya, hanya saja narasinya yg perlu diubah, diperbaiki. Museum bahari itulah dari salah satu sisa-sisa abad voc ada." "Kita harus membangun Jakarta dengan melewati pintu peradaban." Pic by Lutfi R.     Adapun menurut Bang Zaki yang berprofesi sebagai dosen UIN Jakarta, menyajikan pemaparannya yakni Pesta Demokrasi itu adalah istilah di Indonesia, dimana biasanya selalu menyajikan pesta disertai para artis. Artis disini pun adalah artis yg pragmatis, memiliki poin penting dan menarik masyarakat untuk datang. Setiap partai pasti akan melakukannya dalam kegiatan kampanye. Padahal seharusnya akan lebih bermakna bila kampanye dilakukan dengan diadakan diskusi permasalahan yang terdapat di suatu d...